Mengenal Revolusi Hijau yang Bikin India Surplus Beras dan Bisa Ekspor ke Indonesia

Mengenal Revolusi Hijau yang Bikin India Surplus Beras dan Bisa Ekspor ke Indonesia - Revolusi hijau menjadi sebuah kunci kesuksesan India dalam surplus produksi beras. India hingga sekarang tetap menjadi salah satu negara dengan produksi beras terbanyak di dunia. India bisa mencukupi kebutuhan beras dalam negeri dan melakukan ekspor beras ke negara-negara lain, termasuk ke Indonesia.

Dalam data yang dirilis Statista, revolusi yang dilakukan telah membuat India bisa produksi beras pada 2018 sebanyak 169,5 juta ton. Jumlah produksi ini lebih besar dibandingkan tahun 2017 yang mencapai 166,5 juta ton.Kalau dibandingkan dengan Indonesia, produksi beras India jelas masih lebih unggul. Produksi beras Indonesia pada 2018 dilaporkan mencapai 74,5 juta ton. Sementara pada 2017, produksi beras Indonesia mencapai 73,9 juta.

Fakta menariknya nih India bukanlah satu-satunya negara yang menerapkan revolusi hijau atau green revolution di sektor pertaniannya. Indonesia sebelumnya juga pernah melakukan terobosan ini. Namun, entah mengapa cerita akhirnya gak seperti yang dirasakan India saat ini.
Gimana ceritanya revolusi hijau bisa sukses di India dan apa sebenarnya revolusi hijau itu? Cari tahu yuk selengkapnya dalam ulasan berikut ini.

Apa yang dimaksud dengan revolusi hijau? Ini penjelasannya dan sejarahnya

Ini yang dimaksud dengan revolution green dan sejarahnya

Revolusi hijau adalah suatu periode meningkatnya produktivitas pertanian secara drastis sebagai hasil dari penggunaan teknologi pertanian yang dimulai antara tahun 1950-an hingga 1960-an. Meskipun popularitasnya mulai menyebar 1950-an, green revolution pada prakteknya dimulai tahun 1940-an di Meksiko seperti yang diungkap ThoughtCo.


Norman Borlaug adalah ilmuwan dari Amerika Serikat yang mempelopori revolusi hijau di negara-negara berkembang lalu menyebar ke seluruh dunia. Norman Borlaug diminta Rockefeller Foundation dan Pemerintah Meksiko untuk melakukan penelitian gandum pada tahun 1940-an di negara tersebut.

Penelitian Norman Borlaug dan tim lalu menghasilkan varietas gandum baru yang tahan terhadap penyakit. Varietas gandum tersebut dibudidayakan di Meksiko dengan didukung teknologi pertanian terbaru saat itu.

Hasilnya, Meksiko menghasilkan banyak gandum melebihi kebutuhan masyarakatnya. Padahal, Meksiko sebelumnya diketahui melakukan impor gandum demi bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri. Meksiko pun sampai mengekspor gandumnya yang surplus pada 1960-an.

Setelah sukses di Meksiko, program revolusi hijau ini terus berlanjut dengan dukungan dana dari Rockefeller Foundation dan Ford Foundation. Beberapa lembaga pemerintah juga turut mendanai program pertanian ini.

Pelaksanaan program revolusi hijau diuji coba di banyak negara berkembang. Negara-negara yang melaksanakan program pertanian ini antara lain Filipina, India dan Pakistan. Di Filipina, International Rice Research Institute (IRRI) didirikan pada tahun 1960 yang merupakan hasil kerja sama Pemerintah Filipina bersama Ford Foundation dan Rockefeller Foundation. Di tahun 1966, program kerja sama ini menghasilkan varietas padi IR8. Produksi beras di Filipina pun meningkat dari 3,7 juta ton menjadi 7,7 juta ton dalam dua dekade.

Swaminathan dan Borlaug lakukan revolusi hijau di India demi mencegah terjadinya bencana kelaparan



revolusi hijau
Swaminathan dan Borlaug lakukan revolusi hijau di India demi mencegah terjadinya bencana kelaparan, (Wikipedia).
Pada 1960-an, banyak pengamat memperkirakan terjadinya bencana kelaparan massal di negara-negara berkembang. India dan Pakistan menjadi negara-negara yang berada dalam ancaman tersebut.
Ancaman kelaparan ini kemudian mendorong Dr. M.S. Swaminathan, seorang ilmuwan pertanian asal India, buat mengundang Dr. Borlaug yang pada 1960-an telah menemukan varietas gandum baru yang sukses dikembangkan di Meksiko. Swaminathan dan Borlaug kerja bareng buat menghasilkan varietas gandum yang unggul.

Swaminathan juga berperan dalam mengajari petani-petani di India metode pertanian yang lebih efektif dalam meningkatkan produksi pertanian. Seperti yang dijelaskan  The World Food Prize, metode pertanian yang diajarkan Swaminathan merupakan kombinasi dari varietas gandum, penggunaan pupuk dan teknik pertanian yang efisien.

Revolusi yang dimulai dari 1965 hingga 1978 berbuah sukses dengan meningkatnya hasil pertanian di India. India yang saat itu mampu panen gandum sebanyak 12 juta ton dalam empat musim bisa meningkatkan hasil panennya menjadi 23 juta ton. Gak cuma gandum, India juga bisa meningkatkan produksi berasnya sejak terjadinya green revolution di negara tersebut.

Teknologi dan metode pertanian yang diterapkan dalam revolusi hijau, apa aja?



Teknologi dan metode pertanian yang diterapkan dalam green revolution, apa aja?

Dalam praktiknya, revolusi hijau dapat sukses karena memperkenalkan teknologi dan metode pertanian yang terbaru saat itu. Apa aja teknologi dan metodenya?

1. Memperkenalkan varietas tanaman pangan yang unggul

Varietas unggul ini merupakan tanaman domestikasi yang dikembangkan secara khusus lewat serangkaian penelitian. Varietas ini kalau ditanam dapat memberi hasil produksi melebihi varietas sebelumnya. Contohnya adalah padi IR8 yang dikembangkan di Filipina.

2. Penggunaan pupuk kimia dan herbisida sintetis serta pestisida

Dalam penerapan program pertanian ini, penggunaan pupuk kimia membuat produksi pertanian jauh meningkat. Sebab tanaman pangan mendapat nutrisi tambahan dari pemberian pupuk kimia ini.
Sementara pemanfaatan herbisida sintetis dan pestisida dapat mengontrol tumbuhan pengganggu dan hama serangga yang menghambat pertumbuhan tanaman pangan. Dengan begitu, produktivitas pertanian bisa meningkat.

3. Menerapkan metode tanam tumpang sari (multiple cropping)

Revolusi hijau juga bisa sukses berkat diterapkannya metode tanam tumpang sari (multiple cropping). Metode tanam tumpang sari (multiple cropping) adalah metode tanam campuran dengan menanam lebih dari dua jenis tanaman pangan dalam satu areal tanam.

Apa aja dampak-dampak green revolution?



revolusi hijau
Ini lho dampak dilakukannya green revolution di India, (Ilustrasi/Shutterstock).
Tentu aja program pertanian ini awalnya ditujukan buat menghindarkan negara-negara berkembang dari bencana kelaparan. Secara spesifik, berikut ini adalah dampak-dampak green revolution.

1. Meningkatkan hasil panen dalam jumlah yang lebih besar

Udah pasti peningkatan produktivitas pangan menjadi dampak positif dari pelaksanaan program pertanian ini. Meningkatnya hasil pertanian gak cuma sanggup memenuhi kebutuhan konsumsi pangan dalam negeri, tetapi juga meningkatkan ekonomi suatu negara dari hasil penjualan tanaman pangan ke negara lain.

2. Mengurangi ketergantungan impor pangan

Meksiko dan India adalah contoh-contoh sukses dari diterapkannya revolusi hijau. Kedua negara tersebut telah bisa swasembada pangan dan gak lagi punya ketergantungan impor pangan. Malah surplus pangan di negara-negara tersebut diekspor ke negara lain.

Terapkan green revolution, negara-negara ini jadi pengekspor beras di dunia



revolusi hijau
Deretan negara ini menerapkan green revolution dan berhasil menjadi pengekspor beras, (Ilustrasi/Shutterstock).
World’s Top Exports mencatat ada beberapa negara yang pada 2018 menjadi pengekspor beras di dunia. Rupanya negara-negara tersebut diketahui menerapkan program green revolution di sektor pertaniannya. Negara-negara mana aja itu? Berikut ini daftarnya.
Negara pengekspor beras Nilai ekspor
India US$ 7,4 miliar
Thailand US$ 5,6 miliar
Vietnam US$ 2,2 miliar
Pakistan US$ 2 miliar
Amerika Serikat US$ 1,7 miliar
China US$ 887,3 juta
Italia US$ 614,1 juta
Brazil US$ 467,9 juta
Uruguay US$ 400,2 juta
Kamboja US$ 375,2 juta

Green revolution di Indonesia pernah terjadi pada masa Orde Baru



revolusi hijau
Green revolution di Indonesia pernah terjadi pada masa Orde Baru, (Ilustrasi/Shutterstock).
Sejarah mencatat Indonesia pernah menerapkan program revolusi hijau pada masa Orde Baru. Program pertanian ini mulai dilaksanakan dan dicanangkan dalam kebijakan Pembangunan Lima Tahun (Pelita I) pada tahun 1969 yang berada di bawah tanggung jawab Departemen Pertanian.
Buat melaksanakan program pertanian ini, Pemerintah Orde Baru menjalankan:
  • Intensifikasi pertanian, yang meliputi pemilihan varietas unggul, pengaturan irigasi, pemupukan, metode pengolahan tanah, dan pemberantasan hama.
  • Ekstensifikasi pertanian meliputi perluasan area pertanian.
  • Diversifikasi pertanian yang diwujudkan dengan metode tanam tumpang sari.
  • Rehabilitasi yang bertujuan melakukan perbaikan buat meningkatkan hasil pertanian.
Berkat program ini, Indonesia sempat merasakan swasembada pangan, tapi cuma sampai lima tahun, yaitu dari 1984-1989. Setelahnya, Indonesia kembali mengimpor beras.

Nah, itu tadi informasi seputar revolusi hijau yang sukses di India dan beberapa negara lainnya. Semoga informasi di atas bermanfaat! (Editor: Mahardian Prawira Bhisma).
Mengenal Revolusi Hijau yang Bikin India Surplus Beras dan Bisa Ekspor ke Indonesia Mengenal Revolusi Hijau yang Bikin India Surplus Beras dan Bisa Ekspor ke Indonesia Reviewed by Andi Leangle on 8:32:00 PM Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.